Showing posts with label lingkar pena. Show all posts
Showing posts with label lingkar pena. Show all posts

Tuesday, February 9, 2016

The Secret of Heaven

Judul: The Secret of Heaven
Penulis: Herry Nurdi
Penyunting: Taufan E. Prast
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, Juni 2009
Tebal: 268 hlm
ISBN: 978-602-8436-31-1
Bintang: 5/5


Siapa bilang masuk surga itu gampang?
Surga meminta tebusan yang sangat mahal
Kesadaran yang tinggi, Amal yang besar
Keberanian yang tak kenal gentar, Dan lebih dari segalanya,
surga meminta ketakutan dan cinta kita pada 
Tuhan Semesta Alam

Meski istilah instan banyak beredar, tapi tidak ada yang benar-benar instan. Bahkan untuk dapat memakan mie instan pun, kita harus bergerak merebus air  dan mengambil mangkuk. Semua hal membutuhkan usaha, meski hanya dengan satu gerakan, meski hanya berupa tarikan napas. Karena manusia tanpa usaha, layaknya makhluk mati. Jadi ketika kau menginginkan surga, apa yang sudah kamu usahakan?

Tidak ada kejadian atau hal yang berdiri sendiri, semua pasti memiliki keterkaitan. The Butterfly Effect. Apa yang kita lakukan, sangat mungkin memiliki dampak pada orang lain. Rantai yang saling berkait inilah yang perlu untuk dipahami oleh setiap manusia agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan/tindakan.
Seluruh dari kita memiliki ikatan dan kaitan, dengan hidup dan peristiwa yang dialami oleh manusia lain dalam kehidupan yang berbeda. Karenanya, wahai makhluk yang berakal, pikirkanlah benar-benar perbuatan yang akan kita lakukan.(h. 12)
Keterkaitan antar manusia bisa memberikan dampak positif dan amal jariyah asalkan manusia selalu melandaskan perbuatannya sesuai aturan Allah Swt, mendasari pemikirannya untuk mendapat ridho Allah. Bahkan, kewajiban setiap muslim untuk mengajak saudaranya pada keridhoan Allah, bisa jadi membantu perubahan kehidupan bermasyarakat.

Ke-35 tulisan Herry Nurdi ini bukan sekadar muhasabah tetapi juga kontemplasi, ajakan untuk menyuarakan, bertindak, dan berdakwah tentang kebenaran. Diam tak selalu emas. Diam juga bisa berubah menjadi dosa. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi hancur. Penulis memperlihatkan bahwa ilmu yang dimiliki tak akan berguna jika tidak dilanjutkan dengan tindakan.

Kita tahu sesuatu itu salah, tapi hanya diam. Apakah akan memberikan perubahan? Apakah selama ini kita cuek dan mencari-cari alasan untuk menghindar? Bisa jadi, tindakan yang kita ambil untuk mengatasi kesalahan akan menjadi pemberat timbangan di Padang Mashyar, menjadi amalan yang melapangkan jalan menuju surga yang hakiki.

Seperti ciri khas tulisan Herry Nurdi, esai-esai dalam buku ini terasa lugas, to the point, dan mencerahkan. Tak hanya tentang dakwah, masalah pendidikan dan ibadah juga disinggung dalam esai-esai tersebut. Pembahasan ibadah dititikberatkan pada shalat. Amalan pertama manusia yang bakal dihisab adalah shalatnya. Tapi hari ini, begitu banyak Muslim yang meninggalkan dan meremehkannya. Padahal, kunci dari kuatnya tiang agama ini seyogyanya adalah pengingat, penenang, dan kekuatan untuk terus berjuang di jalan Allah. Sedangkan, permasalahan pendidikan disampaikan lewat tulisan tentang Shalahuddin Al-Ayyubi dan bagaimana kita memilih sosok ulama yang akan kita jadikan guru.


GIVEAWAYS
2 (DUA) PEMENANG BUKU "THE SECRET OF HEAVEN"

Pertanyaan:

Buatlah kalimat ajakan istiqomah yang mengandung kata 'surga'?

Aturannya:
  1. Terbuka untuk semua yang berdomisili di Indonesia
  2. Jawab pertanyaan di kotak komentar
  3. Share link ulasan + giveaways buku The Secret of Heave di akun twittermu. Jangan lupa mention @bacabukuislam dan 2 temanmu, Hastag #TSOH
  4. Follow blog ini dengan mengisikan email aktifmu di kolom "Follow by email" atau follow via bloglovin.
  5. Giveaways berlangsung sampai dengan tanggal 19 Februari 2016
  6. Pemenang dipilih oleh pemilik blog berdasarkan jawaban dari pertanyaan. Hasil keputusan tidak dapat diganggu gugat
  7. Bila 48 jam setelah pemenang dihubungi, tidak ada jawaban, maka saya akan memilih pemenang baru.
Readmore → The Secret of Heaven

Sunday, February 8, 2015

Suami Sempurna (+ Kuis)


Cerita pendek Suami Sempurna memang cocok untuk dijadikan judul buku, tak sekadar menjadi salah satu cerita yang apik tapi juga menjadi pembawa pesan bahwa tidak ada kehidupan yang sempurna. Memiliki suami yang tak memiliki empati, memang ujian berat bagi Astri. Tak sekali dua kali dia mengingatkan, bahkan tak jarang berujung pada perdebatan. Suami, terkadang lupa bahwa ada sosok-sosok muda yang membutuhkannya. Bukan uang tapi perhatian, cerita dalam Aku Adalah Ayah menjadi peringatan untuk para ayah perihal tersebut. Para istripun mendapat sentilan melalui kisah Sabrina yang berjudul Dua Bunda.

Awalnya cerpen-cerpen berkisah tentang dilematik sederhana dalam keluarga, tentang pasangan suami-istri dan menantu-mertua. Namun, cerpen mulai 'panas' ketika bercerita tentang kehidupan Ningsih yang memuat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bahkan kisah Nada Pasir Kaliasem terasa miris saat perempuan 'tidak' memiliki pilihan. Penulis tak hanya bertutur tentang kekerasan yang terjadi pada perempuan, Terempas Asa mencerminkan kepedihan anak ketika mengetahui dirinya hanyalah anak buangan.
Pernah tinggal di Batam, penulis menceritakan kehidupan pekerja wanita yang merantau ke kota tersebut. Merpati Kelabu dan Bunga Karang menjadi gambaran tentang beban kehidupan perempuan pekerja pabrik. Menjadi tulang punggung keluarga dan harus mencari tambahan penghasilan demi mencukupi keluarga di kampung. Ada juga Taksi Plat Hitam yang menimbulkan kengerian pada resiko para perempuan ketika harus pulang malam, mengingatkan para berita-berita kriminal yang bertaburan di layar televisi.

Masih ada beberapa kisah yang sebagian besar cerpennya mengangkat kehidupan perempuan dengan segala problematikanya. Sisi islami tidak terlalu menonjol, tapi terselip dalam beberapa cerita. Gaya bahasa Nurul F Huda tergolong sederhana. Jika sedikit membandingkan dengan kumcer sejenis, Sakinah Bersamamu sangat tampak kesederhanaan dalam merangkai kata. Konflik juga tidak terlalu tajam. Namun, bagian yang menarik adalah pada akhir cerita. Hampir di semua cerpen, penulis tidak membuatnya tuntas, dibiarkan mengambang, tapi tidak tanggung. Bukan dalam artian supaya pembaca menebak sendiri bagaimana akhirnya, tapi seperti menggambarkan, ya begitulah hidup.

Judul: Suami Sempurna
Penulis: Nurul F. Huda
Penerjemah: Sabila
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, Desember 2011
Tebal: 252 halaman
ISBN: 9786028851855
Harga: Rp. 22.000 (di www.parcelbuku.net)
  
***
KUIS SUAMI SEMPURNA
 
 
Pertanyaan:

Sebutkan buku atau cerpen bertemakan keluarga yang pernah kamu baca dan membekas/menginspirasimu? (sebutkan alasannya)

Syarat Peserta:
  1. Peserta WAJIB memiliki blog (tema blog bebas) dan tidak dikondisikan private karena pemenang WAJIB mengulas buku yang dihadiahkan
  2. Peserta boleh dari negara manapun, tapi jika memenangkan hadiah hanya dikirim ke alamat di Indonesia,
  3. Peserta menjawab pertanyaan dikolom komentar dengan menyertakan alamat blog dan akun twitter/facebook.
  4. Peserta wajib follow twitter @bacabukuislam atau like fanpage Baca Buku Islam
  5. Peserta wajib membagikan info berikut melalui twitter dengan mention @bacabukuislam atau facebook dengan mentag fanpage Baca Buku Islam
  6. Tantang berlangsung dari 9 Februari s/d 2 Maret 2015,
  7. Pemenang akan diumumkan (inshaaALLAH) 4 Maret 2015

Hadiah
2 Orang Pemenang akan mendapatkan 
masing-masing 1 Buku Suami Sempurna
(Pemenang WAJIB mengulas buku-buku tersebut minimal sebulan setelah hadiah diterima)


Readmore → Suami Sempurna (+ Kuis)

Tuesday, November 20, 2012

A Message of Love

Sampul Buku [Pinjam dari Mbak Novi]
Kisah dalam A Message of Love di luar perkiraan saya. Melihat sampul depan, judul yang memuat kata 'love' dan tagline 'cinta, patah hati dan sebuah persahabatan' yang terdengar standar, semua membuat saya tidak terlalu berharap akan mendapatkan lebih dari sekadar kisah cinta. Gegara itu, meski buku ini berstatus pinjam, keinginan membaca tertunda cukup lama. Ternyata perkiraan saya tidak 100% benar, ada nilai lain yang disodorkan penulis, juga terdapat aroma misteri dalam rangkaian ceritanya.

Menjadi perempuan mandiri, cerdas, cantik dan memiliki pekerjaan yang bergaji tinggi, ternyata tidak membuat Zahra Khairunnisa menjadi tenang. Hadirnya mimpi Opa membuat Zahra bertanya-tanya dan melihat kemungkinan keresahannya dapat terobati. "Carikan buku kecil Opa," kata-kata itu yang kerap terdengar dalam mimpi Zahra beberapa kali. Rasa sayang yang besar kepada Opa, semakin membuat Zahra ingin mencari buku kecil. Pencarian itu menggiringnya ke sebuah desa di Tasikmalaya. Dari sanalah cerita berkembang menjadi konflik cinta, perenungan, obsesi, dan pencarian tujuan hidup.

Sejak awal, cerita sudah diselimuti misteri pencarian buku kecil, seperti halnya ketika pria misterius berkali-kali terlihat. Hanya saja, sempat muncul rasa biasa saja dari mulai perjalanan Zahra, pertemuannya dengan Khairi, dan kenangan akan Eyang Anang yang sangat disayangi warga kampung Ciherang. Saya baru merasakan cerita mulai 'naik' saat terjadi konflik dalam persahabatan Zahra dan Mutia, yang membuat Zahra memutuskan ke Inggris. Selain itu, membaca gejolak dan usaha Zahra untuk meredam amarah berhasil membuat saya ikut merasa sakit hati. Akhir cerita tertebak, kecuali bagian yang berhubungan dengan passion Zahra. Sedikit mengingatkan pada cerita Bollywood. 

Judul: A Message of Love
Penulis: Tria Barmawi [@triabarmawi]
Penyunting: Azzura Dayana
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, Maret 2010
Tebal: 366 hlm
Bintang: 4/5


:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku atau Dagang Buku yuk! ::
Readmore → A Message of Love

Monday, May 14, 2012

Katastrofa Cinta


Sangat pelik dan padat konflik. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku garapan Afifah Afra ini. Sejak awal membaca, saya sudah disuguhi dua alur yang membuatku terus bertanya-tanya, apa hubungan kedua cerita ini yang terlihat seperti tidak ada hubungannya. Pertanyaan itu terus muncul dan baru terjawab di ujung cerita, benar-benar di ujung halaman akhir. Untungnya, penulis berhasil 'memelihara' rasa penasaran saya hingga menamatkan cerita.

Pada era penjajahan Belanda, sekitar tahun 40-an, cerita bermula, bertuturkan tentang sejarah kakek buyut dan kelahiran Astuti yang berlatarkan adat Jawa. Konflik antar suami-istri, obsesi seorang ibu, dan Islam vs budaya Jawa, menjadi permasalahan yang sepanjang membacanya membuat saya bertanya, “kenapa sejarah hidup Astuti harus diceritakan jauh sejak sebelum dia lahir?”

Di sisi lain, ada kisah kehidupan Cempaka/Mei Hwa, sebagai anak keturunan TiongHoa. Sejak kecil Cempaka hidup dalam keluarga berada yang dipenuhi kasih sayang, tiba-tiba harus musnah akibat tragedi ’98 yang menyisipkan trauma bagi warga TiongHoa. Ketidak-sanggupan Cempaka menerima kenyataan, membuatnya mengalami gangguan mental dan menciptakan kebencian yang begitu besar pada Firdaus.

Tidak berbeda jauh dengan nasib Astuti. Ketika penjajah Jepang datang ke Indonesia, petaka hidup Astuti datang bertubi-tubi. Pada episode kehidupan Astuti kali ini pun dipenuhi dengan kedukaan, mulai dari kematian keluarga, pelecehan seksual, pelarian ke Jepang, hingga harus mengais uang dengan caranya yang mengenaskan di negeri Matahari Terbit.

Saat kembali ke Indonesia, karakter Astuti menjadi liar akibat tempaan hidup, hingga mengantarnya pada ideologi komunis. Perkenalannya dengan kelompok berlambangkan palu dan sabit menjadikannya seorang Gerwani, meski saat itu Kakeknya adalah ulama yang sedang giat melawan arus komunis. Dan kembali kita dihidangkan sekelumit sejarah bangsa Indonesia oleh penulis.

Digarap dengan alur cerita maju mundur, baik kisah Astuti maupun Cempaka, menurut saya tidak membuat bingung. Selain itu, saya yang cenderung kesulitan jika berhadapan dengan buku yang memiliki banyak tokoh, kali ini tidak terlalu kesulitan mengingat semua nama yang berseliweran, salah satu bukti bahwa penulis berhasil membuat karakter tokoh yang membekas di kepala saya.

Namun ada beberapa yang mengganjal kepala saya sepanjang membaca Katastrofa Cinta. Bayangkan, bagaimana ketika konflik yang begitu banyak, digarap dengan alur yang cepat, sudah pasti akan tertangkap kesan terburu-buru. Ya, saya merasa beberapa bagian cerita, terutama kisah Astuti, seperti ‘sekedar lewat’hingga terlihat bagian tersebut tidak tergali dengan baik. Semisal, ketika Astuti dijebloskan ke Pulau Buru. Saya tidak terlalu menangkap gambaran bagaimana kondisi Pulau Buru dan kehidupan Astuti di sana.

Satu lagi yang agak mengganjal kepala saya adalah masalah pendalaman karakter tokoh. Kemampuan penulis untuk memaparkan masa lalu yang kemudian mempengaruhi karakter tokoh sangat mumpuni, tapi ketika teknik tersebut kemudian diterapkan hampir ke semua tokoh, termasuk figuran, rasanya jadi terkesan bertele-tele, seperti yang terjadi tokoh Sujarwanto.

Terlepas dari semua itu, Katastrofa Cinta tergolong novel lintas zaman yang layak dibaca. Mungkin dibutuhkan riset lebih mendalam lagi untuk menggali bagian-bagian cerita yang masih terasa ‘sekadar lewat’. Bisa jadi kelak jika dilakukan revisi, kisah yang berlatarkan sejarah tahun 40 - 90-an akan menjadi lebih tebal. Tapi, tak masalah menurut saya, jika kemudian, lamanya membaca akan terbayar dengan berbobotnya  wacana sejarah yang disajikan dengan cara yang lentur sehingga menyenangkan untuk dibaca.

Judul: Katastrofa Cinta
Penulis: Afifah Afra
Editor: Taufan E. Prast
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, 2008
Tebal: 270 hlm
Bintang: ****

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke Dagang Buku yuk! ::
Readmore → Katastrofa Cinta

Wednesday, May 9, 2012

Risalah Menuju Jannah

 
Jujur, saya agak speechless mereview buku ini. Bingung karena hampir semua isinya ingin saya tuangkan dalam review. Rasanya ingin sekali saya membagikan semua isi tulisan dalam buku ini. Tapi gak mungkin kan? Bisa gempor jari saya. Buku berjudul Risalah Menuju Jannah ini, terbit cukup lama, sekitar Juni 2009. Nama Ihsan Tandjung-lah yang menggelitik saya untuk turut memesannya dengan harga yang terbilang murah. Nama Ihsan Tandjung saya kenal lewat ceramah beliau berjudul Zionisme Internasional yang saat itu menjadi tema yang sedang kugandrungi.

Risalah Menuju Jannah merupakan kumpulan tulisan yang sebagian sudah pernah muncul di website eramuslim.com. Penulis yang sampai sekarang masih aktif mengisi blog bolehjadikiamatsudahdekat.com ini, menyampaikan hal-hal krusial, yang dibaginya menjadi 4 tema besar yaitu dakwah, hari akhir, amal ibadah, dan ghozwul fikri [ideologi].

Pada bab awal penulis menyoroti tentang pentingnya mengajak atau berdakwah tidak hanya kepada sesama muslim tapi juga di luar muslim dengan cara yang benar tanpa paksaan. Ada satu artikel berjudul ‘Jangan Remehkan Ucapan Anda’ pada bab ini yang bagus menurutku, dimana poin yang saya dapatkan adalah kita tidak pernah menyangka, bahwa bisa jadi sebuah ajakan sederhana untuk bertaqwa kepada-Nya bisa menjadi membuka hidayah bagi orang lain.

Pada bab selanjutnya, tema sentral adalah mengimani akhir zaman, dan pentingnya memahami setiap pertanda akan datangnya kiamat. Sebuah zaman dimana setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban, masa dimana sebenar-benar kehidupan bagi manusia. Sebuah tulisan yang berjudul sama dengan blog penulis, ‘Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat’, memberikan gambaran besar posisi zaman kita saat ini, dimana kita sebenarnya telah berada pada babak keempat, dimana sering disebut dengan nama The Darkest Ages of The Islamic History.

“Memang sudah sepantasnya kita umat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammad saw. merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah Swt, berarti kita merupakan penutup berbagai umat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita Umat Akhir Zaman. Dan berdasarkan hadis Ringkasan Perjalan Sejarah Umat Islam, kita dewasa ini sedang menjalani kehidupan di babak keempat dari lima babak yang bakal dilalui umat Islam hingga menjelang dekatnya kedatangan hari Kiamat” [h. 136]

Bab III adalah menyinggung tantang amalan atau ibadah yang akan menjadi bekal kelak menuju Alam Barzah. Membaca bab ini membuat saya sedikit tertegun dan diingatkan kembali dengan amalan yang mungkin terlihat/terdengar sepele, seperti menjawab/mendengar azan; atau membaca doa sebelum tidur; atau tanpa sadar ternyata bisa jadi selama ini setan ikut mabit bersama. Astagfirullahil’adhim

Memasuki bab IV, tema yang diangkat lebih ‘berat’ tapi menjadi landasan utama seorang muslim, yaitu ideology/keyakinan. Penulis secara singkat mengkritisi sistem demokrasi, mengingatkan tentang zaman penuh fitnah yang sudah banyak betebaran, bahkan tentang kenapa Amrozi Cs bisa disebut sebagai syuhada, tanpa memungkiri ketidaksetujuan penulis atas tindakan bom mereka.

Penulis yang juga bertindak  sebagai salah satu dewan redaksi eramuslim.com ini menuliskan pemikirannya dengan kalimat sederhana dan tidak berbelit-belit, serta dibarengi hadist/ayat yang memperkuat isinya. Meski beberapa ayat/hadist sering disebutkan berulangkali di tulisan yang berbeda, hal itu tidak menimbulkan kesan monoton, karena pilihan dalil yang diambilnya benar-benar tepat sasaran sehingga efeknya lebih memperkuat apa yang disampaikan.


Judul: Risalah Menuju Jannah
Penulis: Ihsan Tandjung
Editor: Taufan E. Prast
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, Juni 2009
Tebal: 350 hlm
Bintang: *****

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Risalah Menuju Jannah

Saturday, January 7, 2012

Perjalanan Meminang Bidadari



“Segala sesuatu memiliki dua sisi. Entah benda, apalagi manusia dan pikirannya. Seseorang bisa dianggap sebagai pahlawan di satu sisi, tapi bisa juga sebagai penjahat di sisi lain. Dianggap kawan bagi sekelompok orang, tapi musuh bagi sekelompok yang lain.”

Penilaian dari orang lain atas diri manusia memang tidak lepas dari sudut pandang dan pemikiran yang terbentuk dalam kepala setiap manusia. Namun, jika Anda seorang muslim sepertinya layak memproklamirkan bahwa ke-10 pria pilihan penulis ini sebagai seorang kawan, bahkan sosk yang patut menjadi teladan, atas keistiqomahan mereka dalam memperjuangkan kemuliaan Islam. Sosok-sosok yang sangat teguh dengan pendiriannya, sosok-sosok yang tak kenal ampun melawan penindasan, sosok-sosok yang berjuang dalam perjalanan meminang bidadari.

Jujur, hampir sebagian besar tokoh dalam buku, baru saya kenal lewat lembaran memoar yang dituliskan oleh Herry Nurdi ini. Namun, di antara yang saya kenal, nama Syekh Ahmad Yasin-lah yang jelas sangat menginspirasi. Dulu saya sering melihat sosoknya muncul di layar televisi. Sosok yang renta, tubuh yang sudah lumpuh, indera yang tidak berfungsi dengan baik, namun segala kekurangan fisik ternyata tak membuatnya menjadi lemah, malahan menjadikannya tokoh dengan pemikiran tajam dan ditakuti oleh musuh. Tua tidak membuatnya takut untuk melawan perampokan yang dilakukan oleh Bani Israel. Syekh Ahmad Yasin hanya ingin memperjuangkan apa yang menjadi haknya, hak rakyat Palestina, seperti yang dikatakannya, “Aku tidak melawan Yahudi karena mereka Yahudi. Aku melawan karena mereka merampas tanah kami – [h.83]. Itulah sebagian kecil dari memoar yang padat-berisi tentang masa hidup Syekh Ahmad Yasin

Tak ada kata terlalu tua untuk berjihad di jalan Allah ~ Syekh Abdullah Yusuf Azzam

Kalimat yang dikutip dari halaman 120 tersebut, yang diucapkan salah satu tokoh dalam buku “Perjalanan Meminang Bidadari”, cukup mewakili bagaimana kesepuluh mujahid benar-benar ‘menghabisi’ umurnya hanya ditujukan pada-Nya, hanya untuk mendapat ridho-Nya, hanya demi meraih kemuliaan di jalan-Nya.

Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Omar Mukhtar, Yahya Abdul Latif Ayyash, Ibnul Khatab, Syekh Abdul Yusuf Azzam, Abdul Aziz Rantisi, Abdullah Syamil Salmanovich Basayef, dan Dzokar Musayevich Dudayev, adalah rangkaian nama yang perjalanan hidupnya coba dipaparkan oleh penulis, agar menjadi inspirasi bagi siapapun yang membaca. Saya pribadi setelah membaca buku ini, benar-benar dibuat takjub dengan komitmen yang dipegang teguh, bahkan di kala iman menurun pun, mereka masih dapat bangkit kala mengingat apa yang menjadi tujuan hidup mereka, seperti yang terkisah pada memoar Sayyid Qutb. Sungguh, memoar-memoar dari para mujahid ini pasti akan membuat pembaca termenung, seperti halnya saya. Coba merenungi kembali apa sebenarnya hakikat hidup di dunia, kembali memaknai segala bentuk ibadah, sekecil apapun, bahkan saya berani berkata buku ini insyaALLAH akan menjadi pendongkrak di kala futur.

Sedikit menyinggung tentang jihad. Dewasa ini jihad seringkali dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Sebuah cara pandang yang rupanya berhasil dicekokkan media lewat banyaknya propaganda yang semakin menyudutkan Islam. Efeknya, sebagian masyarakat anti dengan istilah jihad. Well, saya sebenarnya masih tergolong awam jika harus memaparkan segala tentang jihad, tapi kutipan dari perkataan Buya Hamka dalam artikel Membela Jihad dalam Pandangan Buya Hamka sepertinya layak untuk direnungkan kembali.

Ketakutan menyebut perkataan jihad adalah dikarenakan hilangnya kepribadian sebagai muslim, atau memang disengaja untuk menghilangkan harga diri sebagai muslim sejati.”

Judul: Perjalanan Meminang Bidadari
Penulis: Herry Nurdi
Penyunting: M. Irfan Hidayatullah
Penerbit: Lingkar Pena
Terbit: Pertama, 2011
Tebal: 210 hlm
Readmore → Perjalanan Meminang Bidadari

Sunday, December 25, 2011

La Tahzan For Teachers


Indonesia saat ini sangatlah membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Kemiskinan yang membludak menjadi bukti nyata bagaimana kurang mampunya anak bangsa dalam mengelola berlimpahnya kekayaan alam nusantara ini. Padahal manusia adalah sosok yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi, seperti yang tertera dalam Al Qur’an, surat Shaad: 26 “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Pendidikan merupakan poin yang sangat berperan dalam pembentukan sumber daya manusia, baik dalam hal intelektual, emosional, dan spiritual. Dan sosok, selain orang tua, yang sangat berperan besar dalam menciptakan pendidikan yang berdaya guna adalah guru. Tak mudah menjadi seorang guru dengan berlimpah anak. Berbeda dengan orang tua yang ‘hanya’ menghadapi anaknya sendiri, seorang guru secara tidak langsung harus memperhatikan perkembangan dari anak muridnya yang berjumlah hingga puluhan orang.

Berbagai permasalahan yang tidak hanya menyangkut masalah fisik, tetapi juga kejiwaan, harus senantiasa diantisipasi dan ditangani oleh guru, dengan bekerjasama orang tua. Apalagi jika yang dihadapi oleh guru adalah anak murid yang menginjak usia remaja. Di mana usia tersebut ‘terkenal’ dengan masa-masa pemberontakan dan pencarian jati diri. Beragam karakter murid membuat penanganannya setiap masalah tidaklah sama, butuh tinjauan psikologi supaya dapat meminimalisir kesalahan dalam pengambilan tindakan.

La Tahzan For Teachers salah satu referensi yang layak untuk dibaca oleh guru, tak luput juga untuk orang tua. Banyak pelajaran yang dapat diserap dari berbagai kasus guru ketika berhadapan dengan berbagai karakter muridnya. Salah satu kasus yang menarik adalah adanya murid yang sangat hobi menyeletuk selama mata pelajaran berlangsung. Sebagian orang [guru_red] pasti akan menganggap bahwa dia seperti ini termasuk anak yang menjengkelkan dan layak diusir dari kelas. Namun, jika dianalisa lebih lanjut ada sebuah kecerdasan tersendiri yang sebenarnya tersimpan dalam kebiasaan yang kerap dinilai buruk ini.

“Barang siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu untuk diajarkan kepada manusia, maka ia telah mendapat pahala tujuh puluh orang shiddiq (orang yang benar dan membenarkan beliau seperti Abu Bakar As-Siddiq)”.

Derajad seorang guru di mata Islam pun sangat tinggi, bahkan Allah pun menjanjikan pahala yang begitu besar bagi siapapun yang mengajarkan ilmu bermanfaatnya dengan ikhlas. Hanya saja, sekiranya hal tersebut tidak membuat seorang guru menjadi jumawa dan merasa paling benar. Tidak hanya membahas mengenai permasalahan murid, dalam buku ini juga terdapat evaluasi-evaluasi bagi para guru. Merasa diri lebih benar seringkali terjangkit dalam diri orang yang berusia lebih tua, begitupun yang terjadi pada diri guru ketika menghadapi anak muridnya. Hal-hal senada itulah yang coba diulas dalam bab Rapor Seorang Guru. Sehingga pembenahan dapat dilakukan dari dua sisi, yaitu pendidik dan yang dididik.

Dalam buku ini semua kisah dijabarkan bersama dengan contoh-contoh kasus sekaligus analisa psikologi yang diuraikan dengan cukup mumpuni, mengingat dua penulis, Mbak Irmayanti yang berprofesi sebagai guru, dan Mbak Gita Lovusa, seorang lulusan pendidikan psikologi. So, sekiranya akan sangat bermanfaat jika buku ini menjadi bacaan wajib, terkhusus bagi para pendidik atau guru.

Judul : La Tahzan For Teachers
Penulis : Irmayanti & Gita Lovusa
Penyunting: Ratno Fadillah & Azzura Dayana
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Desember 2010
Tebal : 196 halaman

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → La Tahzan For Teachers

Ngefans Sama Rasul


Di sela-sela menekuni buku fiksi-sejarah tentang Rasululloh, saya membaca tuntas buku berjudul 'Ngefans Sama Rasul'. Buku yang sudah bertampang lecek ini, kembali saya baca untuk me-refresh kepala dengan sejarah hidup sosok yang terkenal dengan gelar al-Amin. Saya membeli buku ini sekitar tahun 2006 di sebuah bazar buku di kampus dulu. Wow! ingatanku baik sekaleee...jarang-jarang neh ^^ Iya lah, karena membelinya barengan dengan buku "Palestina, Emang Gue Pikirin", buku yang saat itu sedang saya idam-idamkan *malah buku P,EGP yang belum kelar dibaca :p*

Sampai saat ini saya masih suka membacanya. Kalau ditengok dari judul dan desain sampul, pasti akan tertangkap kesan gaul dari bukunya. Ya, desain sampullah yang dulu mendorong saya untuk membeli buku ini, supaya adik-adik tertarik untuk membacanya *me too-lah*. Apalagi saat itu adikku sangat menyukai gambar kartun-kartun lucu, sehingga semakin memantapkan diri untuk membeli buku ini yang juga berisi ilustrasi-ilustrasi gokil.

Adanya unsur gaul dan gokil dalam buku terbitan Lingkar Pena ini, tidak mengurangi kualitas dari kisah tentang riwayat hidup Rasululloh. Berawal dari pertemuan Rasulullah dengan Bahira, seorang pendeta yang melihat tanda kenabian dari Muhammad yang saat itu sedang melakukan perjalanan dagang dengan pamannya, Abu Thalib, cerita kehidupan sang nabi mengalir dengan bahasa yang ringan dan mudah untuk dikonsumsi otak.

Walaupun menggunakan bahasa yang ringan, perjalanan dakwah Rasululloh yang penuh hujatan dan kisah peperangan, Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khaldaq, tidak membuatnya kehilangan aura kesungguhan dan perjuangan dari Nabi dan pengikutnya yang menggetarkan, bahkan rangkaian kata yang mengisahkan wafatnya Rasululloh dialiri keharuan. Penulis yang pernah menjabat sebagai redaktur pelaksana di majalah sabili ini, menuturkan kisah hidup Rasululloh dengan bersumber dari banyak literatur yang telah terjamin kebenarannya, sehingga tidak perlu diragukan lagi kevalidan isi buku yang masuk dalam lini Eduteens ini.

Jika menengok dan menekuni kehidupan manusia yang dipenuhi kemuliaan ini, maka sangatlah patut jika sosoknya dijadikan idola yang tidak akan lekam dalam jiwa setiap insan, termasuk para muda-mudi yang saat ini banyak terlena dengan gemerlap dunia glamor dan hedon.

Judul : Ngefans Sama Rasul
Penulis : Herry Nurdi
Editor: Tim Editor Lingkar
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Tahun : Desember 2005
Genre : Biografi
Tebal : 181 halaman
ISBN : 979-3651-71-7

kunjungi: http://wisata-buku.com
Readmore → Ngefans Sama Rasul

My Blog List

 

. Template by Ipietoon Cute Blog Design