Saturday, November 24, 2012

99 Cahaya di Langit Eropa

Cover Buku [Sumber:: Koleksi Pribadi]

Ketika ditanya negara yang berkaitan dengan Islam, sebagian besar orang, bahkan kaum muslim, akan membayangkan negara-negara Timur Tengah. Well, tidak salah juga, hanya saja seringkali mereka lupa bahwa Islam pun memiliki sejarah kebesaran di peradaban Barat. 99 Cahaya di Langit Eropa mencoba untuk mengingatkan kembali bahwa Islam pernah menjadi era kebesaran yang menjadikan sebuah zaman dipenuhi kecerahan.

Hanum Salsabiela Rais [Sumber:: sini]
99 Cahaya di Langit Eropa dibuka dengan kisah fiksi yang di lembar-lembar kemudian diketahui tentang penggambaran Hanum tentang perasaan seorang Panglima Perang Dinasti Turki, sang penakluk yang menggunakan pedang dan darah untuk menguasai wilayah 'jajahan'nya, Kara Mustafa Pasha.

Perjalanan Hanum dimulai dari kota Wina, mengikuti suami yang tugas kerja di sebuah kampus. Keinginannya untuk berkeliling kota didukung dengan pertemuannya dengan Fatma di kelas Bahasa Jerman. Bersama Fatma, Hanum memulai petualangannya mengenal sejarah Islam di Wina dari Wien Stadt Museum. Meski 'hanya' seorang ibu rumah tangga, Fatma benar-benar menjadi guide yang memiliki pengetahuan luas. Banyak sejarah yang disampaikannya kepada Hanum sepanjang menjelajah museum, hingga ujung perjalanan yang mengejutkan berkenaan dengan leluhur Fatma.

Tujuan selanjutnya ke kota mode, Paris. Berkat kartu nama dari Imam masjid yang ditemui Hanum saat perjalanannya mengelilingi Vienna Islamic Center, dia memiliki teman yang bersedia menemaninya mengunjungi museum sejarah di Paris, Museum Louvre.  Marion Latimer adalah mualaf sedang mempelajari peradaban Islam sehingga Hanum mendapatkan banyak keuntungan menjelajah dengannya. Penemuan Kufic dan opini Marion tentang sejarah di balik banyaknya lafadz syahadat dalam lukisan atau patung pemimpin Eropa masa lalu.

Rangga Almahendra [Sumber:: sini]
Jika sebelum-sebelumnya, Rangga tidak bisa sepenuhnya menemani Hanum, perjalanan ke Cordoba dan Granada, mereka jalani bersama. Mereka berkunjung ke Mezquita Cordoba, sebuah mesjid yang diubah menjadi katedral. 
"Ambiguitas tiba-tiba menyeruak ke dalam aura bangunan ini [Mezquita Cordoba]. Seperti krisis identitas. Aku bingung harus memanggilnya apa. Dan tiba-tiba aku merasa 'kehilangan' lagi." [h. 259]
Sedangkan, di Granada mereka bertutur tentang Istana Al-Hambra, tempat megah berupa benteng yang kabarnya merupakan bentuk pertahanan dari gempuran kerajaan Kristen Spanyol.

Istanbul, tempat terakhir di Eropa yang dikisahkan Hanum dalam 99 Cahaya di Langit Eropa. Dimulai dengan penjelajahan ke Hagia Sophia, sebuah katedral yang diubah menjadi mesjid, kebalikan dari Mezquita Cordoba. Istanbul pula yang kembali mempertemukan Hanum dengan Fatma yang sempat 'menghilang' dari Wina, yang kemudian mengajak Hanum dan Rangga ke Topkapi Palace.

Seluruh perjalanan Hanum dan Rangga dituliskan dengan gaya bercerita. Tak hanya tentang sejarah Islam, tapi juga bersikap bijak sebagai agen muslim yang baik di benua Eropa. Hanum juga banyak bercerita tentang kendala-kendala yang kerap dihadapi suaminya yang bekerja di sebuah universitas di Wina berkenaan dengan masalah ibadah atau lainnya. Juga tentang obrolan dengan orang-orang ateis yang saat ini sedang menjadi agama 'favorit' di Eropa.

Sedikit ganjalan tentang pengambilan angka 99 di bagian judul buku, tidak ada kejelasan mengapa dipilih angka tersebut. Selain itu, saya juga agak bingung dengan label di bagian belakang buku yang menetapkan genre buku ini adalah 'NonFiksi/Novel Islami'. Ada kebingungan tentang bagian fiksinya, apakah hanya pada kisah Kara Mustafa Pasha, ataukah perjalanan tersebut juga fiksi, yang membalut lokasi, sejarah, dan benda-benda bersejarah?

Meski begitu, buku ini termasuk istimewa bagi saya. Mengapa? Karena berhasil membangkitkan kembali keingintahuan saya tentang sejarah peradaban Islam di ranah Eropa.
"Yang paling penting dari mempelajari sejarah adalah bukan hanya kemampuan menjabarkan siapa yang menang siapa yang kalah, melainkan mengadaptasikan semangat untuk terus menatap ke depan, mengambil sikap bijak darinya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan di dunia." [h.332]
Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais [@hanumrais] & Rangga Almahendra [@rangga_alma]
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Kedua, Agustus 2011
Tebal: 412 hlm
Bintang: 4.5/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → 99 Cahaya di Langit Eropa

Tuesday, November 20, 2012

A Message of Love

Sampul Buku [Pinjam dari Mbak Novi]
Kisah dalam A Message of Love di luar perkiraan saya. Melihat sampul depan, judul yang memuat kata 'love' dan tagline 'cinta, patah hati dan sebuah persahabatan' yang terdengar standar, semua membuat saya tidak terlalu berharap akan mendapatkan lebih dari sekadar kisah cinta. Gegara itu, meski buku ini berstatus pinjam, keinginan membaca tertunda cukup lama. Ternyata perkiraan saya tidak 100% benar, ada nilai lain yang disodorkan penulis, juga terdapat aroma misteri dalam rangkaian ceritanya.

Menjadi perempuan mandiri, cerdas, cantik dan memiliki pekerjaan yang bergaji tinggi, ternyata tidak membuat Zahra Khairunnisa menjadi tenang. Hadirnya mimpi Opa membuat Zahra bertanya-tanya dan melihat kemungkinan keresahannya dapat terobati. "Carikan buku kecil Opa," kata-kata itu yang kerap terdengar dalam mimpi Zahra beberapa kali. Rasa sayang yang besar kepada Opa, semakin membuat Zahra ingin mencari buku kecil. Pencarian itu menggiringnya ke sebuah desa di Tasikmalaya. Dari sanalah cerita berkembang menjadi konflik cinta, perenungan, obsesi, dan pencarian tujuan hidup.

Sejak awal, cerita sudah diselimuti misteri pencarian buku kecil, seperti halnya ketika pria misterius berkali-kali terlihat. Hanya saja, sempat muncul rasa biasa saja dari mulai perjalanan Zahra, pertemuannya dengan Khairi, dan kenangan akan Eyang Anang yang sangat disayangi warga kampung Ciherang. Saya baru merasakan cerita mulai 'naik' saat terjadi konflik dalam persahabatan Zahra dan Mutia, yang membuat Zahra memutuskan ke Inggris. Selain itu, membaca gejolak dan usaha Zahra untuk meredam amarah berhasil membuat saya ikut merasa sakit hati. Akhir cerita tertebak, kecuali bagian yang berhubungan dengan passion Zahra. Sedikit mengingatkan pada cerita Bollywood. 

Judul: A Message of Love
Penulis: Tria Barmawi [@triabarmawi]
Penyunting: Azzura Dayana
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, Maret 2010
Tebal: 366 hlm
Bintang: 4/5


:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku atau Dagang Buku yuk! ::
Readmore → A Message of Love

Friday, October 19, 2012

Rinai


Mengambil latar tempat di Gaza adalah salah satu yang membuat saya tertarik untuk membaca buku Rinai. Ditambah, ketika mengetahui bahwa kisah Rinai terinspirasi dari perjalanan penulis ketika berada di Khan Younis, Jabaliya, Deir Al Balah, Gaza City, maka keputusan untuk mengikuti event pre-order yang diadakan Penerbit Indiva di facebook-pun dilakoni. Sempat salah sangka, saat membaca blog penulis tentang gaya penceritaan epistori, bayangan awal saya adalah cerita akan berlangsung dengan model surat-menyurat seperti Life on the Refrigerator Door-Alice Kuipers tapi dalam bentuk surat bukan pesan di pintu lemari es. Jadi, saya mengira imajinasi pembaca dibangun dari aktivitas surat menyurat yang dilakukan sepanjang cerita. Ternyata epistori baru terasa ketika menjelang akhir antara Rinai dengan tokoh anonim, Aku. Meski begitu, saya menikmati membaca perjalanan Rinai Hujan yang dibalut dengan konflik psikologis dalam dirinya.

Sinta Yudisia
Menjadi anak perempuan di keluarga penganut adat Jawa yang kental ternyata menciptakan beragam tanya akan pengorbanan yang terlihat tidak adil, salah satunya 'pemujaan buta' terhadap laki-laki dalam keluarga. Jiwa berontak Rinai semakin kencang seiring dengan bertambahnya usia, bersamaan dengan tingkah Guntur, sang kakak, yang tidak tertolerir, ditambah lagi dengan Pak de Harun yang tidak kenal malu, terus meminta bantuan uang dari saudari-saudarinya, salah satu Bunda Rafika, ibu Rinai. Tapi, seluruh keluarga seperti berusaha 'menutup mata' dan memaklumi. 

Keputusan mengambil kuliah di Surabaya, ternyata tak membuat Rinai menjadi tenang, pertanyaan pun masih menggelayutinya, apakah keputusannya adalah bentuk pemberontakan atau upaya melarikan diri dari keluarga yang menurut Rinai selalu menciptakan beban pikiran. Sosok Nora Efendi membuat Rinai kagum dengan dosennya yang tampak sebagai perempuan tangguh yang berani mengambil tindakan dan cerdas, kemudian muncul sifat membandingkan ketika bayangan Bunda Rafika hadir dengan sifatnya yang pengalah dan kerap memendam segala keluh. Dua sosok perempuan kuat dengan caranya masing-masing.

Tak berhenti di situ, mimpi Rinai yang kerap hadir di setiap malamnya dalam wujud Ular pun menambah 'perang' dalam kepalanya. Mimpi tentang ular seringkali dianggap sebagai pertanda munculnya jodoh, tapi kehadiran mimpi ini mencemaskan. Rinai mulai mempertanyakan orientasi seksualnya, menambah permasalahan yang berkemelut dalam batinnya.

Setengah buku pertama, rasanya cerita berjalan lama bagi saya. Bukan dalam taraf membosankan tapi ada rasa tidak sabar dengan ada apa saja dan apa yang bakal terjadi di Gaza. Selain, menuturkan tentang latar keluarga dan pergolakan pikiran Rinai, penulis juga memberikan wacana tentang psikologis lewat diskusi yang terjadi dalam ruang kelas atau obrolan sesama teman kuliah, santai dan mengalir, mungkin karena latar belakang pendidikan penulis yang juga psikologi.

Sepanjang perjalanan menuju Gaza, penulis menggambarkan tentang proses ketika berurusan dengan petugas; suasana Timur Tengah yang jauh berbeda dengan Indonesia; makanan khas Timur Tengah yang malah membuat rindu nasi dan sambal pedas kampung halaman; dan berbagai tempat-tempat yang dilewati sepanjang perjalanan menuju Gaza, di sanalah penulis menyajikan unsur traveling dalam cerita.

Misi kemanusiaan ke Gaza memuat konflik. Tak disangka, human relief for human welfare [HRHW] yang dibawahi Nora Efendi tak seidealis yang dibayangkan Rinai. Persepsi tentang orang dan anak-anak Gaza yang 'diciptakan' untuk sekadar menarik simpati agar kucuran dana dari donatur semakin meningkat, menyalahi nurani Rinai. Perasaan bersalah dan terkejut membuatnya mengambil tindakan "melawan". Membaca bagian ini, memberikan saya gambaran tentang organisasi yang bergerak di dunia kemanusiaan, tanpa bermaksud menggeneralisir, ketika idealisme  'kalah' dengan realitas. Meski ada dua pandangan yang berseberangan, penulis tidak memihak, latar belakang dan alasan masing-masing disampaikan seperti ketika Nora berdebat dengan Taufik.

Tidak banyak buku yang mengangkat Gaza sebagai tema atau latar tempat, padahal butuh buku-buku seperti ini untuk terus mengingatkan pada manusia, terkhusus umat muslim, bahwa ada saudara kita yang sedang berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Tidak hanya bergaung pada waktu-waktu tertentu, tapi selama penindasan terus terjadi.

Sumber Gamber: sini

Judul: Rinai
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Mastris Radyamas
Penerbit: Gizone Books
Cetak: Pertama, 2012
Tebal: 400 hlm
Bintang: 4,5/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Rinai

Sunday, October 14, 2012

Sang Pemusar Gelombang


Awalnya, saya mengira buku Sang Pemusar Gelombang merupakan bacaan fiksi sejarah, yang menceritakan kembali perjalanan hidup Hasan Al Banna dengan gaya fiksi, seperti Trilogi Muhammad - Tasaro. Setelah membaca satu bab dan mulai memperhatikan sub judul buku, "Sebuah Novel yang Berpusar Pada Peri Kehidupan Syaikh Hasan Al Banna", ternyata perkiraan saya salah, meski tidak 100%. 

Mengambil nama tokoh Randy, Hasan, dan Cikal, penulis ingin menampilkan perwakilan karakter dari beberapa golongan pemuda di Indonesia. Randy, aktivis dakwah yang sangat terinspirasi oleh Hasan Al-Banna; Hasan, pemuda yang memiliki ideologi sosialis dengan kekritisan dan kepedulian tinggi terhadap  masyarakat cilik, yang juga memiliki nama mirip dengan sang tokoh revolusioner Mesir; dan Cikal, perwakilan dari anak band yang kemudian dihadapkan pada konflik batin atas kebenaran pilihannya.

Hasan Al Banna
Terungkapnya masa lalu yang menimpa sang ayah, menumbuhkan ketertarikan dan keingintahuan Hasan pada sosok Hasan Al Banna. Perjuangan ayah Hasan menginspirasinya memulihkan keimanannya yang sempat terkubur dan mencari orang yang dapat membantunya mengenal Hasan Al Banna.

Randy Al Banna-lah yang kemudian mengantarkan Hasan ke ranah kehidupan dan pemikiran pria yang memrakarsai organisasi besar bernama Ikhwanul Muslimin.

Randy yang memiliki latar belakang keluarga yang moderat sebenarnya akan menarik jika lebih diangkat dalan cerita. Saya suka sekali diskusi Randy dengan Gilang, yang masing-masing memiliki argumentasi yang timbal-balik. Agak berbeda ketika Randy dan Hasan berdiskusi [baca: berbincang] yang lebih terasa datar, karena Hasan lebih bersifat menerima pemikiran yang disampaikan Randy.

Masih ada satu lagi tokoh, Cikal. Saya merasa sosok Cikal kurang menyatu dalam cerita. Persinggungan Cikal dengan Hasan/Randy tidak terlalu besar, bahkan terkesan "tidak terlalu penting". Maksud penulis ingin menyelipkan fenomena generasi muda saat ini yang kebanyakan keranjingan untuk menjadi selebritis, mungkin menarik. Tapi, tokoh Cikal jadi kurang masuk dengan tema utama novel ini, yaitu Hasan Al Banna. Kecuali, jika kemudian ternyata Sang Pemusar Gelombang memiliki sekuel yang akan menjelaskan keterkaitan lebih dalam antara ketiga tokoh tersebut, sepertinya bisa dimaklumi. Sepertinya begitu, melihat masih banyak konflik yang menggantung hingga akhir cerita.

Judul: Sang Pemusar Gelombang
Penulis: M. Irfan Hidayatullah
Penyunting: Feri M. Syukur & Topik Mulyana
Penerbit: Salamadani
Cetak: Pertama, 2012
Tebal: xviii + 502 hlm
Bintang: 3/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Sang Pemusar Gelombang

Monday, June 11, 2012

Dear Allah …



Rawadas, 11 Juni 2012

Surat teruntuk,
Iqbal Latif & Ayu Mayangsari

Assalamu’alaykum wr wb…

Saat saya pertama kali mendengar bahwa souvenir pernikahan kalian adalah buku, saya benar-benar dibuat penasaran, bagaimana bentuk bukunya? apa isi bukunya? koq bisa terpikir memberi memberi souvenir buku? Menarik, sangat menarik, terutama buat saya yang begitu menyukai buku. Saya yakin kalian pastinya sangat suka membaca, karena tidak mungkin terbersit memberi souvenir pernikahan ‘tak lazim’ ini di kepala seseorang yang tidak menyukai buku. Saya kemudian jadi berharap semoga kreativitas ini menjadi inspirasi dan bahan pertimbangan bagi para calon pengantin dalam memilih souvenir yang insyaALLAH akan berperan untuk membangkitkan semangat membaca.

Alhamdulillah, rasa penasaran saya tertuntaskan setelah minggu lalu pak pos menyerahkan paket yang berisikan buku berjudul ‘Dear Allah ...’ Rupa-rupanya, buku ini berisikan kumpulan surat yang ditujukan ke berbagai pihak, dari keluarga, sahabat, hingga pemimpin bangsa. Membaca sebuah surat memang lebih bisa merasakan apa yang ingin disampaikan si penulis , seperti ketika saya membaca buku harian. Maka sepanjang membaca surat demi surat, ada sebagian yang membuat saya berpikir, “ya ya, saya juga merasakan hal yang sama.” Sentilan akan kerapuhan moral bangsa, pentingnya budaya membaca dan berdirinya perpustakaan yang tepat guna, serta kenangan, kebahagiaan, kesedihan ketika bersama keluarga, semua pernah juga saya pikir dan rasakan. Hanya bedanya, saya tidak menuliskannya, dan disitulah letak kerugiannya. Beruntung untuk kalian yang senantiasa ringan untuk menggerakkan jemari.

Hai Iq, kalau boleh saya berkata, “meski sebagian besar surat ditulis olehmu, tapi penutup berjudul Dear Allah yang ditulis istrimu, Ayu, sangat menyentuh.” Renungannya berhasil membuat saya kembali menengok niatan awal pernikahan dan merenung tentang hakikat hidup dan apa yang telah saya raih sejauh ini. Sungguh, buku yang ditutup dengan tulisan yang begitu cantik.

Kalau boleh sedikit menyampaikan saran ya. Buku ini sebenarnya layak untuk diterbitkan pada pembaca yang lebih luas. Tapi mungkin akan diperlukan pembenahan, terutama dalam penyusunan tulisan yang menurutku masih ‘morat-marit’. Mungkin akan lebih membekas lagi jika surat-surat diklasifikasikan, berdasarkan tema, tokoh, atau apapun ide yang ada di kepala kalian. Dan kemudian, klasifikasi itupun dikerucutkan hingga berujung pada perenungan di tulisan penutup yang sudah sangat bagus peletakkannya.

Saya rasa rasa sekian dulu suratku untuk kalian. Semoga isinya berkenan dan akhir kata, saya hanya ingin berdoa,

Barakallahu lakaa wabarakah ‘alaika wajama'a baynakuma fii khair

Wassalamu’alaykum wrw wb,
Sinta, yang mewakili juga keluarga di Rawadas, Jaktim

Judul: Dear Allah ...
Penulis: Iqbal Latif & Ayu Mayangsari
Editor: Sumaryoso
Penerbit: Halaman Moeka
Cetak: Pertama, Januari 2012
Tebal: 106 hlm
Bintang: ***

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Dear Allah …

Sunday, May 27, 2012

Rose + Pengumuman Pemenang Giveaways - April 2012


"Tuhan ternyata tidak pernah melupakan doa-doa. Bahkan ketika manusia sudah melupakan apa yang pernah dimintanya" [h. 295]
Hidup adalah ujian, dan ujian adalah bukti nyata kecintaan Sang Khaliq untuk hamba-Nya karena dari sana-lah Dia menempa rasa syukur, sabar, ikhlas, bijaksana, dan segala sifat positif lainnya. Dari sana pula-lah kualitas seorang hamba terlihat. Ujian bertubi-tubi yang menimpa keluarga Bu Kusuma sangat menguras kesabaran dan kekuatan untuk melangkahi setiap onak duri. Hidup dalam keluarga yang ‘minus’ sosok pria terasa ada yang kosong, apalagi jika yang ‘hilang’ adalah figur Ayah. Bu Kusuma dan keempat putrinya merasakan kekosongan tersebut saat sosok suami/ayah meninggal. Dahlia, Cempaka, Mawar, dan Melati, harus menjadi yatim di usia yang masih muda.

Awal membaca saya tidak menangkap bahwa tokoh utamanya adalah Mawar, mengingat judulnya adalah Rose. Keuletan dan obsesi Dahlia, si sulung, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pembayaran utang yang menumpuk menjadi sosok yang dominan. Bu Kusuma yang telah berumur dan memiliki penyakit wasir tidak lagi dapat diharapkan menjadi tulang punggung keluarga. Totalitas Dahlia bekerja demi keluarga membuat Mawar dan Melati prihatin. Cempaka sendiri tidak ambil pusing dengan keadaan keluarganya. Kematian sang Ayah membuat Cempaka kehilangan pegangan dan membuatnya meremehkan siapapun yang berusaha ‘menggantikan’ beliau.

Karakter Mawar yang dididik layaknya pria oleh sang Ayah, membuatnya seperti memang ‘dipersiapkan’ untuk menjadi penopang dan pelindung keluarga. Kemauan kuat tersebut muncul ketika musibah menimpa Cempaka; dan barulah Mawar terlihat sebagai tokoh utama. Hamil di luar nikah yang terjadi pada Cempaka dan utang-utang yang mulai ditagih, menjadi ujian untuk keutuhan empat bersaudara ini. Cek cok dan perselisihan yang sering mewarnai hubungan Mawar dengan Cempaka terus berlanjut setelah Cempaka melahirkan bahkan sampai si anak beranjak besar. Ujian terus muncul, dibarengi dilema dan upaya pencapaian titik keimanan. Tidak selesai di situ, ujian masih terus mengelilingi kehidupan keluarga Bu Kusuma.

Saya sangat suka gaya penceritaan dalam bentuk diary, karena menurut saya gaya tersebut bisa membuat pembaca mengenal sang tokoh dengan lebih natural, dari cara bertutur, dari gaya penulisan, dari susunan kalimat yang menjadi simbol luapan isi hati. Pada awal-awal cerita ada penggambaran perasaan masing-masing anak yang disampaikan dalam bentuk diary. Sayangnya, ketika membaca diary dari keempat tokoh perempuan di sini, saya seperti tidak melihat perbedaan satu sama lain, gayanya hampir sama semua. Padahal poin penulisan dengan gaya diary akan menjadi salah satu keunggulan dalam cerita, apalagi jika diary-diary tersebut konsisten dilakukan hingga akhir cerita.

Meski begitu, tetap jempol untuk penulis karena sejak membaca bukunya yang berjudul Kekuatan Ke7ujuh, saya menyukai gaya bercerita Sinta Yudisia yang sangat natural dan terlihat para tokoh begitu mengalir mengikuti alur yang 'ditakdirkan' oleh penulis. Karakter yang begitu membumi membuat tak ada kesan dipaksakan harus menjadi begini dan begitu. Terselip juga, nilai-nilai entrepreneur menjadi nilai tambahan yang dapat dipetik pembaca dalam perjalanan Mawar dan Melati. Dan yang pasti, lewat novel Rose, pembaca diajak merenung, bahwa segala ujung dari pencarian dan kegelisahan seorang manusia, adalah tuhannya, Allah Swt.

Judul: Rose
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Mastris Radyamas
Penerbit: Afra Novela [Lini Indiva Media Kreasi]
Cetak: Pertama, Rabiul Awal 1433 H/Januari 2012
Tebal: 320 hlm
Bintang: ***

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::

***

PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAYS - APRIL 2012
ROSE by SINTA YUDISIA
INDIVA MEDIA KREASI


Salam Buku!

Alhamdulillah, selesai juga giveaways ed. April 2012. Banyaknya peserta cukup mengejutkan, sama sekali tidak menyangka bakalan seramai ini dan pencarian pemenang lumayan bikin kepala pusing karena komentar yang diberikan menarik-menarik. Jadi, penilaian didasarkan dari:
  1. Kelengkapan dan keabsahan pengisian kotak rafflecoster. Poin ini wajib karena banyak peserta yang gugur di penilaian pertama ini.
  2. Komentar yang cukup detail menggambarkan tentang apa yang tergambar di pikiran saat mendengar/membaca kata 'Rose'
Setelah menilai dan memilah, akhirnya diputuskan untuk pemenang giveaways ed. April 2012, adalah

Chi Yennesy Damayanti
Rose: Cantik. Kecantikan yang berbalut keanggunan, Ia kuat.
Seperti bunga mawar yang mampu melindungi diri dengan durinya. Harum, membuat orang terpesona. Jika Rose dilukiskan dengan wanita, yang teringat adalah seorang Lady. Lady yang memiliki keanggunan. Hidup dengan ketegaran. Dia disukai banyak orang. Rose juga bunga kesukaanku, terutama White Rose.
Rose, entah mengapa menurutku layak disebut "ibu" bunga karena ia tegar laksana Ibu.

Putri Utama
Rose??? Yang paling saya ingat justru seorang teman yang dipanggil Ros. Dia seperti menjadi "anak buangan" dalam keluarganya. Bila saudara sekandungnya pulang pergi kuliah naik mobil pribadi, dia naik angkot. Dikampus, secapek apapun kuliah + praktikum dia nggak pernah jajan, beli minum, ataupun makan siang. Padahal kuliah sejak pagi jam 7.30 WIB hingga sore bahkan jelang Magrib.

Rose yang kedua, karena saya baru selesai membaca Sunset Bersama Rosie, saya justru teringat pada sosok Rosie dalam buku itu.

Aneh memang... tapi yah begitulah saya... :)
Silakan para pemenang mengirimkan data lengkap [nama, alamat lengkap dan no HP] ke email sinthionk@gmail.com. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak ada kabar, maka pemenang dianggap gugur dan digantikan oleh nominasi selanjutnya.

Bagi yang belum beruntung, masih banyak kesempatan karena saya akan sering mengadakan giveaways setiap bulannya. Saya ucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang sudah berpartisipasi karena membuat giveaways ini semakin seru dengan keikutsertaan kalian.

Giveaways ed. Mei 2012 dapat dilihat di http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2012/05/giveaways-mei-2012-lonely-hearts-club.html
Readmore → Rose + Pengumuman Pemenang Giveaways - April 2012

Saturday, May 19, 2012

Tarapuccino


Meski sebagai penikmat kopi, saya tidak terlalu paham dengan nama berbagai jenis kopi. Saat membaca judul Tarapuccino, saya bertanya-tanya jenis kopi apa yang dimaksud. Pencarian di google pun tidak menuai hasil karena yang muncul, sebagian besar resensi buku terbitan Indiva ini. Parahnya, hingga separuh buku tuntas, saya masih belum mengerti, kopi jenis apa Tarapuccino ini. Mungkin karena terlalu fokus dengan konflik dan plot, saya baru ‘ngeh’, “Oiya, nama tokoh perempuannya kan Tara, apa dari sana ngambilnya?” dan itupun masih dalam taraf menebak-nebak. Jadi, monggo kesediaan penulisnya untuk memperjelas.
 

Cerita dibuka dengan aksi ilegal Diaz dan bagian ini berhasil menggenjot rasa penasaran saya. Kemudian, setting berpindah pada sebuah toko kue yang dirintis oleh Tara dan sepupunya, Raffi. Bakery yang bernama Bread Time ini, merupakan salah satu toko kue yang ternama di Kota Batam. Nah, di sini penulis memberikan ide yang menarik berkenaan dengan lokasi dan manajemen toko yang bernafaskan islam. Layak untuk diterapkan pada dunia nyata.
 

Konflik dimulai ketika Bread Time memutuskan hubungan dengan Calvin & Co, pemasok bahan baku produksi, dikarenakan produk mereka mengandung bahan yang diharamkan. Idealisme dan keteguhan para pemilik toko untuk menjaga kehalalan serta mempertahankan kualitas makanan, ternyata berbuntut panjang. Teror mulai bermunculan dan sosok Hazel, desain grafis baru Bread Time, mulai dipertanyakan.
 

Aksi illegal Diaz ternyata mengantarkan pembaca pada masa lalu kelam mahasiswa drop out yang harus menanggung utang Sang Ayah tersebut. Kematian ayah Diaz juga menyisakan tanda tanya besar tentang keberadaan Ibu kandungnya, yang sayangnya oleh penulis tidak dituntaskan dan tetap menjadi misteri hingga cerita berakhir. Tanggung jawab semakin besar karena harus membiayai hidup ibu tiri dan 3 saudara tirinya yang masih bersekolah. Maka, halal dan haram pun menjadi perang batin dan terus mengusik hati Diaz.
 

Konflik cinta pun tak luput jadi sasaran ‘tembak’ penulis. Tara, Raffi, dan Hazel terlibat cinta segitiga. Tapi menurutku kisah cinta ketiga tokoh ini tidak terlalu banyak dimunculkan, karena penulis lebih menonjolkan sisi misteri dalam alur cerita, dan untuk seleraku itu lebih ‘nikmat’. Kunci misteri itu sendiri sebenarnya, telah diselipkan penulis di bab-bab awal dengan cukup halus. Saya berhasil menangkap kunci tersebut dan sudah menebak akan ke mana cerita ini berlanjut. Meski begitu, penulis berhasil menciptakan suasana tegang dan menyelipkan pengetahuan tentang kode bahan makanan, internet dan Ilegal trading, sehingga saya pun bertahan membaca Tarapuccino sampai tuntas.
 

Saya agak bingung dengan pengaturan alurnya, apakah maju? Atau maju-mundur? Jika alurnya maju, kebingungan saya dimulai pada bagian di mana Hazel diterima sebagai karyawan Bread Time, yang terjadi lebih dulu dibandingkan saat Tara menyadari berita tentang kualitas bahan baku dari Calvin & Co. Apakah memang Calvin & Co sudah menyangka akan ada pemutusan kerjasama dari Bread Time sehingga mengirimkan Hazel sebagai mata-mata? Atau Hazel kebetulan mengikuti wawancara kerja ke Bread Time dan kemudian dimanfaatkan oleh Calvin & Co? Bagian yang mengganjal juga terjadi di bagian akhir cerita. Ada tanda tanya besar tentang hilangnya Diaz saat kecelakaan, yang ajaibnya di bab terakhir muncul kembali sebagai pengusaha.
 

Penampilan buku Tarapuccino, dengan ukuran yang di luar standar dan desain sampul yang bernuansa cokelat, terlihat menawan. Jempol untuk desainer sampulnya.
 

Judul: Tarapuccino
Penulis: Riawani Elyta & Rika Y. Sari
Editor: Saptorini
Penerbit: Afra Publishing
Cetak: Pertama, Oktober 2009/ Dzulqa'dah 1431 H
Tebal: 248 hlm
Bintang: ***

 :: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Tarapuccino

My Blog List

 

. Template by Ipietoon Cute Blog Design