Sunday, December 25, 2011

La Tahzan For Teachers


Indonesia saat ini sangatlah membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Kemiskinan yang membludak menjadi bukti nyata bagaimana kurang mampunya anak bangsa dalam mengelola berlimpahnya kekayaan alam nusantara ini. Padahal manusia adalah sosok yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi, seperti yang tertera dalam Al Qur’an, surat Shaad: 26 “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Pendidikan merupakan poin yang sangat berperan dalam pembentukan sumber daya manusia, baik dalam hal intelektual, emosional, dan spiritual. Dan sosok, selain orang tua, yang sangat berperan besar dalam menciptakan pendidikan yang berdaya guna adalah guru. Tak mudah menjadi seorang guru dengan berlimpah anak. Berbeda dengan orang tua yang ‘hanya’ menghadapi anaknya sendiri, seorang guru secara tidak langsung harus memperhatikan perkembangan dari anak muridnya yang berjumlah hingga puluhan orang.

Berbagai permasalahan yang tidak hanya menyangkut masalah fisik, tetapi juga kejiwaan, harus senantiasa diantisipasi dan ditangani oleh guru, dengan bekerjasama orang tua. Apalagi jika yang dihadapi oleh guru adalah anak murid yang menginjak usia remaja. Di mana usia tersebut ‘terkenal’ dengan masa-masa pemberontakan dan pencarian jati diri. Beragam karakter murid membuat penanganannya setiap masalah tidaklah sama, butuh tinjauan psikologi supaya dapat meminimalisir kesalahan dalam pengambilan tindakan.

La Tahzan For Teachers salah satu referensi yang layak untuk dibaca oleh guru, tak luput juga untuk orang tua. Banyak pelajaran yang dapat diserap dari berbagai kasus guru ketika berhadapan dengan berbagai karakter muridnya. Salah satu kasus yang menarik adalah adanya murid yang sangat hobi menyeletuk selama mata pelajaran berlangsung. Sebagian orang [guru_red] pasti akan menganggap bahwa dia seperti ini termasuk anak yang menjengkelkan dan layak diusir dari kelas. Namun, jika dianalisa lebih lanjut ada sebuah kecerdasan tersendiri yang sebenarnya tersimpan dalam kebiasaan yang kerap dinilai buruk ini.

“Barang siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu untuk diajarkan kepada manusia, maka ia telah mendapat pahala tujuh puluh orang shiddiq (orang yang benar dan membenarkan beliau seperti Abu Bakar As-Siddiq)”.

Derajad seorang guru di mata Islam pun sangat tinggi, bahkan Allah pun menjanjikan pahala yang begitu besar bagi siapapun yang mengajarkan ilmu bermanfaatnya dengan ikhlas. Hanya saja, sekiranya hal tersebut tidak membuat seorang guru menjadi jumawa dan merasa paling benar. Tidak hanya membahas mengenai permasalahan murid, dalam buku ini juga terdapat evaluasi-evaluasi bagi para guru. Merasa diri lebih benar seringkali terjangkit dalam diri orang yang berusia lebih tua, begitupun yang terjadi pada diri guru ketika menghadapi anak muridnya. Hal-hal senada itulah yang coba diulas dalam bab Rapor Seorang Guru. Sehingga pembenahan dapat dilakukan dari dua sisi, yaitu pendidik dan yang dididik.

Dalam buku ini semua kisah dijabarkan bersama dengan contoh-contoh kasus sekaligus analisa psikologi yang diuraikan dengan cukup mumpuni, mengingat dua penulis, Mbak Irmayanti yang berprofesi sebagai guru, dan Mbak Gita Lovusa, seorang lulusan pendidikan psikologi. So, sekiranya akan sangat bermanfaat jika buku ini menjadi bacaan wajib, terkhusus bagi para pendidik atau guru.

Judul : La Tahzan For Teachers
Penulis : Irmayanti & Gita Lovusa
Penyunting: Ratno Fadillah & Azzura Dayana
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Desember 2010
Tebal : 196 halaman

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → La Tahzan For Teachers

Perjuangan Muslim Patani


Sebagian besar dari umat muslim pasti tahu mengenai pergolakan di Palestina. Perebutan wilayah yang dilakukan secara paksa, sadis dan sporadis oleh Israel atas bumi Al-Aqsha. Beragam berita pun muncul dan memperlihatkan kekejaman Israel. Kesadisan dari si laknatullah ini mampu membangkitkan kesadaran moral dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Acara-acara penggalangan dana untuk membantu rakyat Palestina pun sempat membanjiri setiap daerah. Sayangnya, kegiatan seperti itu hanya berlangsung secara momentum.

Setiap kali ditanya wilayah muslim mana yang mengalami penindasan yang tiada berakhir, pasti kebanyakan orang akan menyebutkan nama Palestina. Ya, negara tersebut lah yang sering kali di-expose oleh media. Namun, kenalkan Anda dengan nama Patani? Atau Muslim Patani? Sebagian pasti akan mengerutkan kening, mencoba untuk menggali ingatan yang berkenaan dengan nama tersebut.

Konflik Muslim Patani memang sangat jarang diangkat oleh media. Padahal kondisinya tak jauh berbeda dengan rakyat Palestina, dimana bangsanya sedikit demi sedikit ingin dilenyapkan. Patani adalah sebuah wilayah di selatan Thailand yang mengalami penindasan dari penjajah Syam/Thailand. Dulunya, Patani merupakan wilayah kerajaan muslim yang merdeka, tapi kemudian muncul Perjanjian Bangkok yang berisikan pembagian wilayah kekuasaan antara Inggris dan Siam/ Thailand, dan Patani pun termasuk dalam kewenangan Siam.

Pemerintahan Thailand melakukan pembunuhan tidak hanya secara fisik, tetapi juga hampir ke semua aspek kehidupan, seperti pendidikan, sosial, sejarah, dan budaya. Penutupan berbagai pondok pesantren, penghapusan bahasa melayu yang digantikan bahasa siam pada mata pelajaran bahasa, melakukan asimilasi kebudayaan Siam ke tubuh Patani, penghapusan hukum pernikahan dan waris islami dalam permasalahan hukum, bahkan sejarah mulai dikaburkan dengan menyebutkan Patani termasuk bagian wilayah Thailand. Upaya-upaya inilah yang membuat rakyat Patani geram, hingga menimbulkan pemberontakan dari mereka.

Profesi penulis yang telah malang melintang di dunia jurnalistik dan adanya berbagai fakta yang pernah dilihatnya di lapangan membuat esai-esainya bernada bahasa lugas dan tegas. Penggambaran kondisi rakyat Patani pun terasa lebih nyata dengan adanya dukungan foto-foto yang cukup banyak terlampir dalam buku. Sayangnya, hampir sebagian foto tidak diberi keterangan lokasi atau kejadian.

Terdapat 17 esai yang disuguhkan ke dalam buku yang nyaman untuk dibawa-bawa ini. Hanya saja, bentuknya yang berupa kumpulan esai membuat kerunutan pembahasan tidak terjalin dengan baik dan terkesan morat-marit. Alangkah lebih bagusnya lagi jika pemaparan tentang Muslim Patani ini dibuat dengan subbab yang lebih runut, mulai dari sejarah awal Kerajaan Melayu Patani, masuknya ‘rezim’ Thailand, pemberontakan/perjuangan rakyat Patani, hingga tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Patani. Dengan kerunutan tersebut, pembahasan tentang Patani akan lebih jelas dan terstruktur, tidak bolak-balik dan loncat-loncat.

Terlepas dari kekurangannya, buku ini dapat dijadikan wacana awal bagi siapapun yang ingin peduli dengan perjuangan dari sesama muslim. Kita tak hanya harus peduli dengan penderitaan Palestina, karena ada negara tetangga yang juga membutuhkan bantuan dan doa kita, Melayu Patani.

Judul : Perjuangan Muslim Patani
Penulis : Herry Nurdi
Penyunting: Adhes Satria
Penerbit : Sabili Publishing
Terbit : Cetakan Pertama, 2010
Tebal : xiv+186 halaman
kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Perjuangan Muslim Patani

Happy Ramadhan With Kids


Masa kanak-kanak adalah masa paling produktif dimana mereka banyak sekali menyerap apa saja yang ada di sekitarnya. Kemampuan serap yang tinggi inilah yang seharusnya digunakan para orangtua untuk mulai memberikan berbagai pemahaman, tetapi haruslah dengan cara yang menyenangkan. Sebagian besar anak-anak pasti sangat suka jika diajak bermain atau melakukan hal yang membuat mereka tertarik dan berkreasi. Trik inilah yang sering kali digunakan para orang tua untuk memperkenalkan hal atau pemahaman yang baru, salah satunya Ramadhan.

Bagi umat muslim Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial. Melihat segala keistimewaannya, pastilah para orangtua menginginkan anak-anaknya berkenalan dengan bulan 1000 bulan ini. Tapi bagaimana caranya supaya para bocah cilik ini bisa tertarik? Banyak trik yang dibagikan para penulis dalam buku berjudul ‘Happy Ramadhan With Kids’.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, anak-anak sangat menyukai permainan. Salah satu permainan menarik yang dituangkan dalam buku ini adalah permainan detektif-detektifan ala Ellyza Dian agar Asha, putrinya, tertarik untuk be-Ramadhan dalam ‘30 Hari Menjadi Detektif’. Trik lain adalah dengan membuat berbagai prakarya menyambut datangnya Bulan Ramadhan seperti mempersiapkan poster-poster kreasi sendiri yang berisikan semangat Ramadhan, atau bisa juga dengan membuat kalender Ramadhan yang menyimpan hadiah-hadiah kecil di setiap harinya.

Prakarya yang menurut saya sangat menarik adalah membuat pohon Ramadhan dengan ukuran besar yang ditempeli banyak sekali permen yang bernomor 1 – 30 dan dapat diambil sebagai hadiah puasa sesuai dengan urutan hari dalam Ramadhan. Sudah pasti anak-anak akan sangat menyukai kala membuat ataupun melakukan rutinitas tersebut. Mungkin kita juga bisa menyelipkan hadist-hadist ringan untuk dibaca dan dibahas setiap harinya.

Memperkenalkan buah hati dengan Ramadhan saat berada di negeri bermayoritas Islam mungkin akan lebih mudah karena banyaknya dukungan dari lingkungan atau sekolah anak. Namun, bagaimana jika kita tinggal di negara, dimana Islam menjadi minoritas? Bukan hal mudah mengajak anak-anak berpuasa di Bulan Ramadhan. Hal ini tergambar pada beberapa kisah para ibu muslimah yang harus hidup di negara asing. Bagaimana ketika Ramadhan harus bersaing dengan keseruan perayaan Helloween? Bagaimana membuat Ramadhan menjadi indah di negara yang minim mengenal agama?

Walaupun ada beberapa kisah yang lebih fokus ke pendidikan anak dibandingkan Ramadhan, berbagai pengalaman para orangtua ini cukup menarik untuk dijadikan referensi dalam memancing sang buah hati untuk mencintai Ramadhan. Apalagi jelang bagian akhir, pembaca akan mendapatkan bab berjudul pernik lezat dan kreativitas. Di sana akan didapati berbagai kreasi makanan/cemilan dan prakarya yang dilengkapi dengan cara-cara pembuatannya.

Judul : Happy Ramadhan With Kids
Penulis : Gita Lovusa dkk
Penerbit : Pena Lectura
Terbit : Juni 2010
Tebal : 242 halaman

NB: Tengkyu buat Mbak Nopi… Akhirnya bisa baca sekaligus ngambil banyak ilmu dari buku ini ;)

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Happy Ramadhan With Kids

Muhammad, The Messenger


“Nyaris di buku pelajaran sejarah tak ada peristiwa, misalnya, bagaimana spirit Inggit Garnasih ketika membela habis-habisan Sukarno yang berusia muda, menyelundupkan buku-buku dalam penjara, dan kemudian dicampakkan. Atau kisah bagaimana Hatta terjebak dengan seorang perempuan cantik dalam sebuah jeep. Lalu jeepnya mogok di jalanan yang lengang. Sambil menunggu jeep dicarikan bensin oleh sang sopir, perempuan cantik dan Hatta duduk berjauhan. Hal-hal yang manusiawi seperti itu nyaris hilang dalam dimensi sejarah yang kita ketahui. Makanya sejarah itu bikin ngantuk. Isinya tanggal melulu. Periodesisasi melulu.”

Kaku. Itulah yang sering terkesan dalam sebuah buku sejarah. Seperti yang tertulis pada kutipan di atas yang diambil dari artikel berjudul Tiga Kesalahan Periset dalam Pengumpulan Sumber Sejarah. Kenyataan inilah yang kerap membuat orang malas untuk berkenalan dengan sejarah. Tidak adanya unsur dramatik atau manusiawi dalam sejarah, dan hanya berisikan bahasa formal dan data-data angka, menjadikan buku sejarah menjadi berat dan menjemukan.

Bukan kah sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai novel dan film, dimana unsur dramatik begitu sering mendominasi isi cerita? So, menurut saya tidak ada salahnya menyelipkan unsur tersebut dalam sebuah buku, dengan tetap memegang fakta sejarah yang terjadi di lapangan.

Seperti yang kita tahu bahwa sejarah tokoh besar bernama Muhammad, Sang Rasulullah sudah ditulis diberbagai buku. Bahkan tidak hanya berbentuk literatur, tetapi juga novel. Seperti baru-baru ini dimana Bentang Pustaka telah mengeluarkan novel sejarah dengan latar perjalanan hidup Muhammad yang ditulis oleh Tasaro.

Banyak sekali komentar positif atas munculnya buku berjudul Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan ini. Salah satunya, acungan jempol atas penggarapan sejarah kehidupan Rasulullah sehingga lebih mudah dicerna dibandingkan ketika harus membaca buku literatur tebal dengan tokoh yang sama. Sayangnya, dalam novel karya Tasaro ini, isinya tidak 100% berisikan tentang sejarah Rasulullah, tetapi diselingi dengan tokoh bernama Kashva. Bahkan menurut saya, porsi cerita Kashva lebih banyak dibandingkan Muhammad.

Muhammad The Messenger adalah sebuah buku literatur sejarah yang diceritakan dengan bahasa novel oleh Abdurrahman Asy Syarqawi. Berbeda dengan Lelaki Penggenggam Hujan, sejarah perjalanan sosok Muhammad dalam buku ini menjadi fokus utama dalam buku setebal 597 halaman ini, sejak beliau lahir hingga akhirnya wafat. Menariknya dari buku ini adalah gaya tutur dan penggambaran si penulis terhadap kepribadian Rasulullah. Di sini pembaca akan dihadapkan dengan sosok Rasulullah yang manusiawi, bukan lagi pria yang terlihat amat sangat sempurna seperti yang biasa dibaca dan didengarkan.

Penulis benar-benar menggenggam wanti-wanti terakhir ketika wafatnya Rasulullah bahwa beliau hanyalah manusia biasa yang diberi kelebihan berupa perantara Sang Maha Agung, beliau hanyalah manusia biasa yang tidak layak untuk dituhankan. Berbekal hal tersebut, penulis mencoba menuturkan sikap dan sifat Rasulullah dengan senatural mungkin. Hal ini membuat pembaca lebih bisa melebur dengan sirah nabawiyah yang biasanya terkesan kaku.

Hanya saja, gaya bahasa Tasaro masih lebih indah dan dalam dibandingkan Abdurrahman Asy Syarqawi dalam memperkenalkan sosok Rasulullah. Selain itu, dalam buku ini juga tidak dijumpai daftar pustaka yang sekiranya menjadi landasan dari penulis dalam berkisah. Semoga dengan munculnya buku ini dapat menjadi penggerak para sejarahwan untuk menyampaikan sejarah dengan nuansa yang lebih nyaman. Dan akhirnya, Indonesia pun menjadi negeri yang mencintai sejarahnya.

Judul : Muhammad, The Messenger
Penulis : Abdurrahman Asy Syarqawi
Penerbit : Arkanleema
Terbit : Februari, 2010
Tebal : 596 halaman
Harga : Rp. 89.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Muhammad, The Messenger

Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui


Sebagian besar perempuan pasti menginginkan dari rahimnya lahir seorang anak yang kelak akan menjadi sosok yang soleh/solehah. Tidak hanya itu, seringkali muncul kebanggaan saat perempuan dapat memberikan keturunan. Hanya saja, tidak semua perempuan diberikan anugerah indah tersebut. Sehingga ketika seorang perempuan mendapatkannya, sudah selayaknya jika dia senantiasa bersyukur atas rahmad-Nya berupa kehamilan dan menyusui/ merawat anak.

Tak dipungkiri bahwa masa hamil dan menyusui merupakan tahapan hidup perempuan yang membutuhkan kesabaran yang tak terhingga. Terbayang bagaimana beratnya bunda menopang perut buncitnya hingga 9 bulan, terbayang juga bagaimana kesabaran dibutuhkan ketika seorang bunda berkomitmen memberikan ASI ekslusif selama 2 tahun kepada buah hatinya. Maka tidak salah jika Allah memberikan pahala syahid bagi bunda yang meninggal saat memperjuangkan kelahiran buah hatinya.

"Tidaklah menimpa kepayahan kepada seorang Muslim, sakit menahun, kesusahan, kesedihan, gangguan atau cedera hingga tertusuk duri kecuali Allah akan menghapus sebagian dosanya karenanya." [HR. Bukhari dan Muslim]

Janji Allah tidak akan pernah ingkar. Ya, sesuai dengan hadis tersebut tiada suatu kesusahan/ kesakitan sekecil apapun yang tidak mendapatkan imbalan, asalkan sang hamba berkenan untuk bersabar. Hamil dan menyusui memang melelahkan dan tidak mudah. Namun, semua akan menyenangkan jika para bunda mengetahui bahwa masa-masa tersebut menyimpan pundi-pundi pahala yang berlimpah.

Seorang bunda hamil pasti dituntut untuk selalu melakukan olahraga atau senam hamil agar janin dan ibunya terjaga kesehatannya. Upaya untuk menjaga kesehatan janin tak luput dari sarana mendapatkan pundi pahala karena saat itu bunda telah menunaikan salah satu hak janin, yaitu hak hidup. Gerakan olahraga yang kerap dianjurkan oleh orang tua, bahkan dokter/bidan adalah perbanyak sujud. Riset membuktikan bahwa sujud sangat bermanfaat bagi bunda hamil, terutama dalam mengatur posisi janin.

Rasulullah bersabda: “Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa di dalamnya,” [HR. Muslim] Dalam buku ini juga dipaparkan bagaimana mengatasi keguguran, cara mengurus bayi keguguran, dan pahala syahid pada bunda hamil.

Setelah melahirkan, masa-masa yang penuh anugerah berlanjut dengan menyusui, menyapih, dan mendidik buah hati. Pundi-pundi pahala pun semakin menggunung jika bunda dapat menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Banyak ilmu yang bisa diambil. Irfan Supandi tidak hanya menuturkan tentang pahala yang dapat diraih seorang istri, tetapi juga sang suami di kala kekasihnya dalam kondisi hamil dan menyusui.

Judul : Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui
Penulis : Irfan Supandi
Penyunting : Farid Ikhsan Asbani
Penerbit : Pro U Media
Terbit : 2009
Tebal : 134 halaman
Harga : Rp. 18.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui

Dalam Dekapan Ukhuwah


“… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpun hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka …” [Al-Anfaal: 63]

Seperti yang terekam dalam buku ini, ukhuwah adalah rasa persaudaraan yang tidak terjalin karena darah, tetapi karena sebuah keyakinan dan keimanan. Ayat pembuka, yang juga menjadi pembuka dalam buku Dalam Dekapan Ukhuwah, adalah sebentuk penguatan bahwa kecintaan kepada Allah merupakan ikatan ukhuwah tererat bagi manusia. Tak dipungkiri bahwa ukhuwah menyimpan keindahan dan ketulusan yang tak terkira. Dari sana tercipta sebuah komunitas yang dapat saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Dua lebih baik dari satu, tiga lebih baik dari dua.

Namun, mengerjakan sesuatu atas dasar kecintaan pada Allah, pastinya tidak mudah. Akan selalu hadir rayuan maut para pecinta neraka demi tercorengnya keindahan ukhuwah. Seperti kata pepatah, mencari 1000 musuh lebih mudah daripada mencari satu orang sahabat. Gampang kan cari musuh? Tapi sangat sulit mendapatkan atau mempertahankan seorang sobat.

Menjalin sebuah ukhuwah tidaklah mudah, karena di sana manusia tidak bisa mendewakan keegoisan. Tidak bisa melihat segala sesuatu hanya dari kacamata pribadi. Terdapat orang lain yang harus dijaga, dihormati dan disayangi. Ada toleransi dan kesabaran yang sangat besar ketika sudah memutuskan untuk menjalin ukhuwah. Banyak, sangat banyak sekali yang akan datang untuk menguji sebuah ukhuwah. Lagi-lagi, bukankah segala bentuk perwujudan atas kecintaan kita kepada Allah, bukanlah sesuatu yang mudah?

Lewat ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’ ini, Salim A Fillah memberikan berbagai gambaran dan permasalahan yang sangat mungkin terjadi dalam jalinan ukhuwah. Kesalahpahaman dalam memahami orang lain, tanpa sadar mengunggulkan diri sendiri, kekhilafan saat berkata-kata, kesabaran menghadapi kelicikan, memaafkan segala bentuk kesalahan, perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan masih banyak kisah sayatan sekaligus bunga ukhuwah yang dituturkan oleh sang penulis.

Saya sangat menyukai hampir setiap contoh kasus yang dipilih oleh penulis dalam menguatkan ilustrasi kejadian dalam tulisan. Seperti ketika penulis menuturkan tentang perihal kerendahan hati, beliau memilih kisah renungan tentang pemuda yang ‘dipermalukan’ di sebuah forum dengan bijak lebih memilih untuk mengalah, padahal saat itu sebenarnya dia mampu mematahkan berbagai argumentasi lawan bicaranya.

Atau ketika penulis menuturkan tentang perihal yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan contoh kasus pelayan yang menampar seorang pelanggan dengan kain serbet. Saya dibuat tertawa, tetapi juga termenung sedalam-dalamnya. Pas dan tepat. Penuturan penulis pun tidak terburu-buru, melainkan mengajak pembaca untuk memahami dengan meresapi dahulu apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain.

Saya juga menyukai tulisan yang berkenaan dengan bagaimana seorang muslim harus dapat tetap berlembut hati tanpa harus meninggalkan ketegasan prinsip yang memang harus tetap digenggam. Bukan hal mudah kah? Ketika dimana-mana terdapat tuntutan toleransi yang kerap menggerus keyakinan dan keimanan manusia. Sebuah toleransi yang dibentuk dari kelihaian beberapa pihak dalam membuat pembenaran dengan membolak-balikan fakta, bahkan ayat/ hadist.

Hanya saja, saya tidak terlalu memahami tentang pembagian subbab dalam buku ini, karena menurut saya hal tersebut tidak terlalu berpengaruh besar. Tapi, ya bisa jadi mungkin adanya subbab tersebut lebih berfungsi sebagai peredam kejenuhan/ istirahat bagi pembaca setelah bertemu dengan 60-an artikel dalam buku ini. Terlihat juga upaya tersebut lewat selipan beberapa puisi dan kutipan renungan dalam setiap subbabnya.

Oiya, satu lagi yang membuat saya salutkan pada penulis ini adalah caranya dalam menuliskan kisah sejarah, sebagai contoh kasus. Sungguh, saya merasakan bagaimana si penulis begitu menghayati sejarah kenabian dan para sahabatnya. Cara beliau dalam menuturkan sejarah kenabian terkesan luwes dan meninggalkan kekakuan bahasa literatur yang kerap terjadi ketika seorang penulis mengisahkan sejarah dalam tulisannya. Dengan gaya inilah, saya dapat menjadi lebih bisa merasakan dan meresapi kisah sejarah itu sendiri.

Saya juga menyukai sudut pandang penulis dalam menyoroti, tidak hanya sisi positif, tapi juga sisi negatif dari para sahabat Rasulullah, tanpa adanya niat menjatuhkan keunggulan dan keluhuran budi yang dimiliki mereka. Selain itu, membaca berbagai contoh kasus yang diambil dari sejarah kenabian menerbitkan kesadaran betapa masih kurangnya saya dalam membaca atau memahami sejarah Rasulullah dan para sahabatnya.

Judul : Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis : Salim A Fillah
Penerbit : Pro U Media
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2010
Tebal : 472 halaman
Harga : Rp. 60.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Dalam Dekapan Ukhuwah

Saat Berharga Untuk Anak Kita


Diberitahukan sebelumnya, isi review ini mengandung spoiler!

Salah satu hal penting dalam keluarga yang harus mendapat perhatian penuh adalah anak. Bahkan ketika dalam kondisi hamil seperti saya saat ini, kegelisahan atau ketakutan nantinya bagaimana akan membimbing anak, mulai bergentayangan dalam kepala. Bagaimana tidak, jika menengok perkembangan zaman yang semakin tidak mendukung pergaulan yang sehat, saya benar-benar dibuat ketar-ketir, hingga senantiasa melantun doa mohon ilmu agar dapat membimbing putra putri kami menjadi anak yang soleh dan solehah.

Ya, ilmu. Dibutuhkan kecerdikan dan tangkasan orang tua dalam mendidik sang buah hati, dan semuanya itu tidak bisa ditanggapi dengan hanya, “Ah, nanti juga bakalan belajar dengan sendirinya setelah memiliki anak.” Kalau sudah begitu, kecenderungan yang bakalan terjadi selanjutnya setelah memiliki anak adalah membiarkan tumbuh kembang mereka, dan kerap akan menanggapi sebuah “kesalahan” dengan nada, “Ah, masih kecil, nanti juga kalau sudah gede mengerti sendiri.” Padahal pribadi anak kelak sangat dipengaruhi bagaimana kehidupan dan kebiasaan mereka di masa kecil.

Dari sanalah, mulai terpikir untuk mencari ilmu sebanyak mungkin tentang dunia parenting. Mulai dari membaca blog-blog orang tua yang seringkali menceritakan bagaimana tingkah laku anak-anaknya, yang tidak jarang juga bagaimana trik mereka menangani sang buah hati. Atau bisa juga dengan membaca website parenting yang sering menyajikan berbagai hal yang berhubungan dengan pendidikan anak dan remaja. Saya tahu, bisa jadi nanti kasus saya – kalau diberi umur panjang – akan berbeda atau bahkan jauh berbeda dengan mereka, tetapi minimal saya mempunyai gambaran dan banyak referensi yang bisa dikreasikan ketika menghadapi anak.

Selain dari blog, sudah pasti referensi yang patut untuk dibaca adalah buku. Awalnya saya tidak terlalu berminat dengan buku ‘Saat Berharga Untuk Anak Kita’ dikarenakan nama sang penulis. Pengalaman membaca buku ‘Kado Pernikahan Untuk Istriku’ yang pernah ditulis oleh Faudzil Adhim tidak terlalu bagus, hingga akhirnya buku tersebut tidak tuntas dibaca. Namun, karena berkali-kali masuk pesanan buku ini di toko buku online saya, mau tidak mau rasa tertarik muncul juga. Respon pembelian atas buku ini yang begitu besar, sukses membuat saya pun akhirnya penasaran dengan isi buku yang satu ini.

Banyak, memang banyak pelajaran yang bisa diambil dari kumpulan esai dari Faudzil Adhim. Kemampuannya di dunia parenting memang sangat terasah, mengingat dirinya kerap menjadi trainer seminar bertemakan parenting. Namun sebagian besar tulisan beliau menurut saya masih mengawang-awang, tidak tahu apakah memang disengaja supaya pembaca bisa lebih banyak berpikir. Hanya saja, saya pribadi rasanya seperti tidak mendapatkan kemantapan setelah membaca. Pengalaman membaca buku sebelumnya, ternyata kembali muncul ketika membaca buku terbitan Pro U Media ini, yaitu penulisan yang agak berputar-putar. Pengulangan hadist seringkali membuat bosan. Mungkin niat sang penulis mengulang-ulangnya agar hadist tersebut lebih menancap di kepala pembaca, tapi akan lebih baik jika penulis bisa lebih kreatif dalam mengolahnya supaya lebih nikmat diserap kepala dan dibaca mata.

Terlepas dari itu semua, saya dapat merangkum poin-poin yang sangat berharga setelah membaca keseluruhan isi buku. Pertama, persiapkan anakmu untuk menjemput AKHIRAT, bukan dunia, hal inilah yang seringkali dilupakan para orangtua, terutama jika menyangkut masalah pendidikan, dimana para orangtua lebih mengutamakan IQ dan EQ, dam melupakan SQ. Para orangtua kerap ‘menyiksa’ anak dengan menuntutnya agar selalu mendapat nilai-nilai terbaik, raport tidak boleh ‘kebakaran’ dan masih banyak lagi, dengan alasan orangtua supaya masa depan si anak terjamin. Padahal jika orangtua mau memandang lebih jauh, bukankah anak soleh/solehah akan menjadi amal jariyah ketika mereka menghuni alam kubur?

Kedua, perhatikan hak anakmu, sebelum menuntut hakmu. Ini juga yang sering luput dari perhatian orangtua, yaitu kecenderungan untuk menuntut sang anak. Kerap orangtua ingin si anak patuh, menjalani kehidupannya seperti kehendak orangtua, atau orangtua merasa jumawa karena merasa telah membiayai dan merawat si anak. Orangtua sering menginginkan semua berada dibawah kendalinya, padahal tidak bisa begitu. Contohnya, ketika orangtua ingin suasana rumah sangat tenang, dan memarahi, bahkan menghardik si anak yang tidak bisa diam. Padahal bisa jadi si anak sedang mencari perhatian orangtua yang lebih peduli dengan pekerjaan atau aktivitas berselancarnya.

Ketiga, amalan ibadah orangtua berpengaruh pada karakter anak. “Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orangtua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membaca kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua…” [h.238] Bagian inilah yang membuat ketakutan saya dalam mendidik anak menjadi teredam, bahwa upaya mendidik tidak hanya melalui sang anak tetapi juga dari diri kita sendiri. Seperti halnya doa. Semua pasti tahu bahwa doa orangtua adalah salah satu yang terijabah. Jika doa tersebut terus menerus dilantunkan dengan keikhlasan, maka bisa jadi itulah senjata yang akan membimbing sang anak menemukan jalan-Nya.

Tidak hanya doa, amalan sedekah ikhlas atau puasa rutin orangtua bisa jadi tanpa sadar menjadi sinar pencerah dalam jiwa sang anak hingga kelak dapat menjadi pribadi yang ahsan. Intinya, semua hal selalu kembali kepada-Nya, bahkan jika itu berurusan dengan mendidik anak.

Judul : Saat Berharga Untuk Anak Kita
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit : Pro U Media
Terbit : Cetakan kedua, April 2010
Tebal : 278 halaman
Harga: Rp. 36.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Saat Berharga Untuk Anak Kita

My Blog List

 

. Template by Ipietoon Cute Blog Design